MABA?

Magnet Putih  atau Hitam Untuk Mahasiswa Baru

“Selamat Datang Para Mahasiswa Baru di Kota Pendidikan Yogyakarta. Nikmati Diskon  …(sekian)% di ……….(Sensor-nama perusahaan) kami. Pastikan sebagai  Anda Sebagai Pengunjung Pertama Kami. Segera Kunjungi  Toko Kami!

Alamat: ………… No.Telepon: ………..”.

Saudaraku, Itulah sepenggal kalimat yang membanjiri email setiap mahasiswa baru di Yogyakarta sekitar dua, tiga tahun yang lalu. Dan saya lebih terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa nama toko (perusahaan) yang tercantum dalam kalimat tersebut adalah salah satu diskotik terbesar di Yogyakarta(Wow Luar Biasa!).Ya mungkin inilah tantangan dakwah di abad 21, abad dimana orang sudah tidak malu lagi untuk mempromosikan sebuah kedzoliman kepada khalayak orang banyak. Mata kita serasa sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang batil, dilain pihak kita sebagai seorang muslim yang percaya bahwa islam adalah satu-satunya jalan terbaik dalam kehidupan, enggan untuk bergerak. Kaki kita serasa berat untuk mengajak dalam kebaikan, padahal seruan Allah untuk kita semua sudah jelas!

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kenajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).

Sudah jelas bukan?.Saya teringat perkataan seorang teman “Eh ngapain sih kita harus capek-capek ngurusin Maba? Rapat terus, Padahal mahasiswa yang lain sekarang lagi liburan dan refresing”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya mengibaratkan permasalahan ini dengan pertaruangan dua magnet yakni magnet hitam dan magnet putih.Magnet hitam adalah para musuh Allah yang senantiasa menarik sebuah besi (mahasiswa baru) untuk diajak mengkuti kemaksiatan (mabuk, pesta-pesta, budaya hedonis dll) sehingga melupakan Allah dan Islam. Lalu siapa yang akan menjadi magnet putih? Magnet yang menarik besi (mahasiswa baru) kedalam prestasi akademik, perestasi ibadah, prestasi akhlak dan prestasi-prestasipositif  lainnya? Mari kita jawab dengan semangat, bahwa KITAlah yang akan menjadi magnet PUTIH!.Saudaraku, ada beberapa alasan kenapa kita harus menjadi magnet putih bagi mahasiswa baru.

Mahasiswa Baru adalah Jenjang Peralihan

Mahasiswa baru (Maba) merupakan sebuah tahapan peralihan antara fase seorang siswa SMA dan dan fase seorang mahasiswa.Jika saya mencermati pola kebiasaan belajar dan prilaku adek-adek saya di fakultas, sekitar dua sampai tiga bulan pertama kebiasaan belajar dan prilaku mereka tidak pernah jauh dengan pola kebiasaan dan prilaku mereka di SMA.Sehingga sangat wajar dalam fase ini mereka mencari pola kebiasaan yang menurut mereka nyaman dan bisa menjadi panduan untuk menjadi seorang mahasiswa. Nah seharusnya kita bisa menjadi agent-agent islam yang bisa mengenalkan indahnya islam sedini mungkin kepada mereka. Kita tidak boleh kalah dengan para musuh islam yang begitu giat mengenalkan kemaksiatan bertopeng kesenangan kepada adek-adek kita.

Mahasiswa Baru Membutuhkan Prototype Indahnya Islam

Sebuah lempengan besi tidak akan disebut magnet jika lempengan tersebut tidak memiliki daya tarik untuk menarik besi-besi di sekelilingnya, begitupun dengan kita selaku magnet putih. Kita harus memilki daya tarik untuk menarik adek-adek kita dalam kebaikan dan mersakan indahnya islam. Apa daya tarik tersebut? Daya tarik tesebut adalah prototype atau kita sebut dengan keteladanan.Sebagai seorang mahasiswa baru yang baru menginjakan kaki di dunia kampus mereka membutuhkan sebuah keteladanan yang mencerminkan bagaimana seorang mahasiswa beribadah, belajar, dan bersosialisasi. Mindset pikiran mereka akan merekam kuat hal-hal yang mereka anggap sebagai sebuah hal yang harus diteladani dan diikuti. Jika kita mengenalkan kebaikan dan indahnya islam kepada mereka sejak awal maka mindset yang terbentuk adalah prototype seorang mahasiswa muslim yang berprestasi, berbeda jika mereka mengenal magnet hitam sebagai sebuah prototype, maka hura-hura dan kemaksiatan sejenisnya menjadi sebuah hal yang terekam kuat dalam pikiran mereka.

Pemikiran Mahasiswa Baru Belum Banyak Terwarnai

Mahasiswa baru lebih cenderung terbuka terhadap pemikiran-pemikiran yang baru mereka kenal.Sehingga banyak para musuh Allah yang dengan giatnya merasuki pemikiran-pemikiran mereka untuk melakukan dan meyakini hal-hal yang bertentangan dengan agama Islam. Pernah seorang teman berkata kepada saya “Wah kamu memang orang yang merasuki pemikiran-pemikiran Maba!” maka saya ingin menyatakan bahwa BETUL! Kita adalah pemberi kepemahaman tentang indahnya islam kepada mahasiswa baru. Kita jangan kalah dengan golongan magnet hitam yang terus menyimpangkan adek-adek kita dari Allah dan Islam.

Mahasiswa Baru Pewaris Risalah dakwah Kampus

“Akh tidak terasa kita sudah tingkat tiga ya, setahun lagi kita keluar dari kampus ini.Tapi sepertinya hanya sedikit adek-adek mahasiswa yang mau menerima amanah meneruskanestapet dakwah di kampus ini”.

Saudaraku mari kita cermati salah satu pernyataan salah seorang sahabat kita ini, masihkah kita berpikir bahwa kita akan selalu berada di kampus? Atau masihkah kita memilki pandangan bahwa kitalah yang akan selalu mengcover setiap kerja-kerja dakwah kampus? Jawabannya adalah mustahil dan sangat tidak mungkin!. Saudaraku sesungguhnya kerja dakwah kampus yang kita lakuakan secara alamiah akan terbentur dengan permasalahan waktu. Seorang kader dakwah kampus paling tidak memiliki waktu sekitar empat sampai lima tahun untuk terus berada di kampus, selebihnya setiap kader kampus yang telah lulus akan memasuki fase lingkungan dakwah yang baru yakni dakwah fropesi atau dakwah masyarakat. Selama ini sering terjadi permasalahan berupa penempatan posisi kerja dakwah yang tidak sesuai dengan perkembangan seorang kader dakwah.Saya sering mengeluhkan ketika ada seorang kader kampus yang seharusnya fokus membackup dakwah kampus tapi malah tersibukan dengan dakwah sekolah, bukan permasahan prioritas saja yang ingin saya tekankan tapi setiap fase dakwah merupakan ladang pembelajaran untuk mempersiapkan diri memasuki fase dakwah selanjutnya, dakwah sekolah di khususkan untuk mempersiapkan kader dakwah kampus, begitupun dakwah kampus dikhususkan untuk mempersiapkan kader dakwah untuk memasuki fase dakwah yang lebih luas dan kompleks yakni dakwah Sya’bi atau profesi. Setiap siklus dakwah tersebut harus terus berjalan, sehingga kita harus memilki system regenerasi dakwah yang sehat dari tahun ke tahun. Maka izinkankanlah saya bertanya kepada para pembaca sekalian,Siapakah yang akan menggantikan kita jika kita telah lulus kuliah kelak?

Baik, kalau sudah dijawab, saya ingin menceritakan sebuah percakapan dua orang sahabat kita,

A         : Akh sepertinya antum santai santai saja mengurus kaderisasi dakwah kampus kita ini? Mahasiswa baru sudah mulai berdatangan lho..

B      : Akhi yakinlah bahwa dakwah ini akan terus berjalan tanpa adanya kita, jadi pasti akan selalu ada kader-kader yang akan menggantikan kita semua, kita lihat saja nanti pasti ada mahasiswa baru yang datang ke sekertariat kita untuk mendaftar.

Bagaimana komentar anda? Untuk menjawab hal tersebut saya teringat dengan tausyiah salah seorang mantan ketua LDK di kampus saya, beliau mengatakan,

“ Akhi..ukhti.. janji Allah itu tidak pernah ada yang salah, dan pasti akan terjadi. Allah menjanjikan kepada kita bahwa jalan dakwah ini tidak akan pernah sepi dari para kesatria-kesatria dakwah, mereka akan menggantikan orang-orang yang enggan atau bosan membersamai jalan ini, tapi bukan berarti antum antumna hanya berdiam diri, menunggu datangnya hujan tanpa menyiapkan tong besar untuk menampung airnya. Bisa jadi Allah telah menyiapkan para kader-kader dakwah tangguh untuk berjuang di kampus kita, tapi kita semua tidak pernah bergerak untuk menjemput mereka!, Jika ada sumber mata air di gunung yang mau kita manfaatkan untuk kepentingan orang banyak di kampong, maka kita memerlukan perantara berupa pipa-pipa dan antum antumnalah pipa-pipa tersebut, antum antumna adalah perantara penjemput estapet dakwah kita kedepan, Jadi marilah kita bergerak! Kita tidak bisa berdiam diri! Apakah kita mau mengalah bila dibandingkan dengan militansinya para musuh-musuh Allah di luar sana?”.

Saya rasa sudah jelas, jawabannyaadalah mahasiswa baru.mahasiswa baru adalah pewaris risalah dakwah kampus untuk dua atau tiga tahun kedepan, mereka harus kita jemput untuk membesamai jalan dakwah ini. Sehingga bukan menjadi sebuah hal yang tabu jika kita merapatkan barisan membuat strategi untuk menjemput pewaris peradaban Islam. Ali bin abi thalib radiallahuanhu berkata “Kebatilan yang terstruktur akan mengalahkan kebajikan yang tidak terstruktur”mari kita menyadarkan diri, bahwa sungguh sangat banyak magnet-magnet hitam musuh Allah yang siap menarik mahasiswa baru dalam dunia kedzoliman, sungguh aneh jika kita yang mengaku dan merasakan indahya islam ini hanya berdiam diri tak bergerak sama sekali. “Mari kita bergerak dalam kebaikan, karena sesungguhnya syurga itu diperuntukan untuk orang-orang yang bergerak”. Bersiaplah!, halaman-halaman selanjutnya kita akan mencoba bersama merencanakan strategi-strategi untuk menjemput para kader dakwah yang telah dijanjikan Allah SWT.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s